Apakah Islam Sebuah Agama?

Diposkan oleh Ali Sina pada 8 April  2011

Rebecca Bynum telah menerbitkan buku barunya yang berjudul Allah is Dead, yang memuat argumennya mengapa Islam bukanlah sebuah agama. Menurutnya, bila mengklasifikasikan Islam sebagai sebuah agama dan memberikannya status bebas pajak, maka sesungguhnya kita mendukung suatu sistem kepercayaan yang bertujuan untuk menghancurkan kita.

Bynum mengatakan, Islam sebenarnya lebih dekat pada ideologi-ideologi seperti determinisme material, nihilisme, bahkan Darwinisme Sosial daripada dengan Kekristenan atau Yudaisme. Faktanya, ada banyak kesamaan antara Islam dengan Naziisme dan Marxisme. Ketiga ideologi ini bersifat totaliter dan berpandangan bahwa tujuan menghalalkan cara.     

Namun demikian, yang mana yang dapat disebut sebagai agama dan yang mana yang bukan agama, adalah pertanyaan yang kompleks. Tidak ada dua agama yang serupa. Ada beberapa kesamaan antara Yudaisme dan Kekristenan karena keduanya mempunyai akar yang sama. Namun demikian, Hinduisme sama sekali berbeda. Hinduisme adalah sejumlah besar filsafat yang berasal dari berbagai saga. Ada benang merah yang menghubungkan kesemuanya itu dan itulah sebabnya mengapa kita mengklasifikasikannya dalam satu kelompok dan menyebutnya sebagai Hinduisme. Hinduisme pada dasarnya adalah kumpulan filsafat India. 

Budhisme juga adalah sebuah filsafat. Budhisme bahkan tidak mempunyai sifat teistik. Dalam Budhisme keyakinan kepada Tuhan bersifat opsional. Namun demikian, kita mengklasifikasikan Hinduisme dan Budhisme sebagai agama karena keduanya mempunyai pengajaran moral dan mistik, yang merupakan cakupan agama. Keduanya juga mempunyai ritual-ritual yang merupakan karakteristik sebuah agama. 

Kemudian ada pula Konfusianisme dan Daoisme. Sulit menyebut kedua keyakinan ini sebagai agama. Daoisme memiliki dimensi mistik yang terdapat dalam agama-agama lain. Konfusianisme sepenuhnya berurusan dengan dunia ini. Pengajaran-pengajaran Konfusius adalah mengenai (lihat: about) etika dan keteraturan sosial. Konfusianisme sama sekali tidak menyebut soal Tuhan atau pewahyuan.    

Ada juga agama-agama animisme seperti Shamanisme. Keyakinan dalam agama-agama ini berfokus pada roh-roh dan kuasa-kuasa magis. Agama-agama ini tidak berfokus pada moralitas dan etika, melainkan pada pemberdayaan pribadi. 

Islam dipengaruhi oleh kekristenan dan Yudaisme dan mempunyai banyak kesamaan fitur dengan kedua agama tersebut. Namun demikian, Islam mempunyai dimensi yang tidak dimiliki kedua agama tersebut, dan itu adalah dimensi politik. Sementara Yesus dengan jelas menyatakan bahwa kerajaan-Nya tidak berasal dari dunia ini, tujuan utama Muhammad adalah menaklukkan dan mendominasi dunia. Tujuan ini sangatlah penting sehingga moralitas dan etika dapat dikorbankan demi tercapainya tujuan tersebut. Orang Muslim diijinkan dan bahkan dianjurkan untuk melanggar aturan-aturan etika dan keadilan agar Islam menjadi dominan. 

Agama Bahai juga mencita-citakan sebuah pemerintahan dunia yang disupervisi oleh sebuah Dewan Keadilan Universal, yang terdiri dari sembilan orang pilihan yang dipandang tidak mempunyai cacat cela. Dalam sistem pemerintahan Orwellian ini, tidak ada tempat untuk oposisi. Pada saat yang sama moralitas dan etika di kalangan penganut Bahai sangatlah penting. Bahkan mereka diajari bahwa lebih baik dibunuh daripada membunuh.  

Seperti yang anda lihat, agama-agama mempunyai beragam wujud dan bentuk. Aliran sesat juga adalah agama. Kita menyebutnya sebagai aliran sesat karena jumlah anggotanya sedikit dan hanya mempunyai sedikit kuasa. Jika suatu aliran sesat kemudian menjadi kuat dan memiliki jutaan penganut maka ia akan menjadi agama. Pada awal kelahirannya kekristenan dipandang sebagai aliran sesat. 

Kita tidak dapat mendefinisikan apa itu agama dengan baik. Definisi tiap orang berbeda dan tidak akan pernah ada konsensus. Apakah agama harus bersifat teistik? Jika demikian, Budhisme tidak dapat didefinisikan sebagai agama. Apakah agama harus hanya memiliki Tuhan atau boleh memiliki banyak Tuhan? Apakah agama harus percaya kepada akhirat atau hidup sesudah mati?

 

Saya percaya kepada Bugs Bunny. Saya menyembah Bugs Bunny Yang Dimuliakan dan ia mendapat tempat spesial dalam hati saya. Saya menjalankan agama saya dengan membuat semangkuk popcorn dan menonton kartun-kartunnya setiap kali saya merasa sedih atau suntuk. Ia memberi saya kesenangan besar dan saya dapat melupakan semua masalah saya.  Coba jelaskan pada saya mengapa agama saya tidak dapat dikatakan sebagai agama. Saya mengakui bahwa tidak banyak orang yang mempraktekkannya di gereja saya. Ada anak-anak yang juga percaya kepada Bugs Bunny tetapi sayangnya dengan pertambahan usia mereka kehilangan kepolosan mereka, teralihkan dengan banyak hal lain dan murtad. Walau demikian saya sangat yakin iman saya riil. Mengapa saya tidak dapat mengajukan permohonan pengecualian pajak terhadap gereja yang anggotanya adalah saya, diri saya sendiri dan pribadi saya? Pentingkah jumlah anggotanya? Berapa banyak orang yang harus saya tobatkan agar gereja saya diakui sebagai agama yang sah? Agama saya mengajari saya bahwa binatang pun adalah manusia juga. Bugs Bunny Yang Dimuliakan (SAW)  adalah seekor kelinci. Saya dapat merekrut kucing kepunyaan saya dan semua kucing dan anjing di lingkungan saya. Siapa yang berani menentangnya? Apakah itu tidak masuk akal? Mungkin, tapi itulah keindahan iman. Semua iman tidak masuk akal. Itulah sebabnya mengapa mereka disebut iman. Pertanyaan ini akan membawa kita pada jalan yang licin. Lebih baik kita tidak terjebak dalam diskusi apakah Islam, atau agama apapun juga, adalah agama atau bukan. Jika para pengikunya mengatakan bahwa itu adalah agama, maka kita pun harus menerimanya demikian.

Yang menjadi masalah berkenaan dengan Islam bukanlah karena islam adalah sebuah agama. Orang boleh percaya pada apa saja yang ingin mereka percayai. Yang menjadi masalah sehubungan dengan Islam adalah dimensi politiknya. Islam ingin menguasai dunia melalui Jihad. Jihad mempunyai dua sayap – penipuan dan teror. Islam telah mendeklarasikan perang terhadap Umat Manusia. Kita harus memeranginya. Islam harus dihancurkan bukan karena Islam adalah sebuah agama tetapi karena Islam bertujuan untuk menundukkan kita dengan teror. 

Alih-alih berusaha mendeklasifikasi Islam sebagai sebuah agama, sesuatu yang tidak pernah dapat kita lakukan, kita dapat dengan mudah melarang prakteknya. Kita dapat melarang Syariah dan kita dapat melarang ceramah-ceramah Quran karena Quran mengobarkan kebencian dan kekerasan. 

Islam adalah sistem keyakinan bunglon. Ia bersifat politik tapi beroperasi sebagai agama. Ia adalah agama tetapi mempunyai tujuan politis. Islam merecoki kehidupan pribadi semua manusia, bukan hanya para pengikutnya. Bahkan anjing dan babi pun tidak luput dari sasaran kebenciannya.  

Kita tidak dapat menyerang Islam sebagai sebuah agama tapi kita dapat menyerangnya sebagai sebuah sistem politik yang bertentangan dengan konstitusi kita dan karena Islam memerangi sistem pemerintahan kita. 

Namun demikian, ada satu kesamaan yang dimiliki semua agama, yaitu Peraturan Emas. Nampaknya semua agama, seserong apapun, mempunyai keyakinan inti bahwa manusia harus memperlakukan sesamanya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan. Aturan Emas ini tidak ada dalam Islam. Dalam hal ini Islam dapat disejajarkan dengan KKK (Klux Klux Klan), Naziisme dan kelompok-kelompok supremasi rasis lainnya. Kita dapat melarang Islam oleh karena hal ini. Jika KKK dapat dilarang, mengapa Islam tidak?

 Sumber: “Is Islam A Religion?”

Â