返回总目录
Mengenai Kata ALLAH
Mengenai Kata ALLAH
Dewasa ini, terdapat umat
Islam di Malaysia (dan juga segelintir di Indonesia) yang tuntut bahawa kononnya,
‘tidak ada penganut agama-agama selain daripada Islam yang mengunakan
kalimat-kalimat seperti “Allah”, “assalamu’alaikum”, “bismillah”
dan kalimat-kalimat islamik’ yang lain seperti itu (lihatlah edisi majalah
Al-Islam di Malaysia pada awal tahun 2008 ini). Kita dapati bahawa
pendapat seperti di atas, dari segi ilmiah dan fakta semata-mata, bukan sahaja
kedangkalan lagi sangat jahil, tetapi juga bersumberkan kepada kepalsuan yang
ketara.
Marilah kita bersama-sama
mengkaji data-data dan fakta-fakta berkenaan yang sudah ada dengan lebih teliti
dan keikhlasan – supaya kita dapat mengasingkan kebenaran daripada kepalsuan,
hakikat daripada dakyah kosong dan fakta nyata daripada kejahilan dan kepalsuan
semata-mata!
Kita mulakan pembahasan
rinci mengenai pengunaan kata "Allâh" ini dari sudut bahasa.
Kalimat "Allâh" berasal dari dua kata: al, dan ilâh.
Al adalah kata sandang (banding bahasa Inggeris; the), dan ilâh
bererti: “yang kuat”, dewa, dll. Dalam bahasa-bahasa Semitik, kata ini
menunjuk pada kuasa yang ada di luar jangkauan manusia, yaitu pada dewa atau
tuhan. Sudah di zaman pra-Islam, al-ilâh telah disambung menjadi
Allâh. Dan dalam agama orang-orang Arab pra-Islam, kata ini
digunakan untuk menunjuk pada dewa yang paling tinggi di antara dewa-dewa yang
lain yakni, Pantheon yang masing-masing mempunyai namanya sendiri.
Namun kata Allâh itu sendiri bukan nama, sepertimana diterangkan di atas.
Dengan demikian, kata
Allâh sudah ada dalam bahasa Arab sebelum Islam dalam zaman jahiliyyah
atau zaman politheisme.
Dan kalimat itu pun bukan ciptaan orang Islam, dan ia juga tidak baru muncul
dalam Al-Qur'ân Al-karîm, melainkan, dari sudut bahasa, ia merupakan kata
biasa dalam bahasa Arab lepas dari ikatan dengan salah satu agama
tertentu.Contohnya,nama bapa nabi Muhammad sendiri ialah ‘Abdullah’ yakni
bermaksud hambanya Allah. Akan tetapi ayah Muhammad itu tidak pernah
melihat anaknya Muhammad kerana Abdullah sendiri telah meninggal dunia sebelum
Muhammad berlahir! Agama yang dianuti bapa Muhammad itu adalah agama keberhalaan
yaitu menyembah dewa-dewi suku Arab Kuraisy dan Allah juga adalah Tuhan
mereka.
Secara etimologi dan
semantik sahaja, kalimat Allah ini terdapat pula dalam
beberapa bahasa-bahasa Semitik yang lain, mulai dengan bahasa Assyria dan
Babylonia sampai bahasa Phoenicia di Ugarit, dan pula dalam bahasa Ibrani dan
Suryani (Syria/Syam) atau Aramik yang luas digunakan di Timur Tengah sejak abad
ke-5 sebelum Masihi sampai masa meluasnya agama Islam dan bahasa Arab pada abad
ke-7 Masihi. Akar kata ini yang terdapat dalam bahasa-bahasa itu ialah dua
konsonan, yakni alif dan lam (' l), dan ucapannya yang lengkap dengan huruf
hidup adalah sesuai dengan gaya phonetik masing-masing bahasa, umpamanya 'el dalam bahasa Ibrani dan 'il dalam bahasa Arab.
Yang dikenal dalam bahasa
Ibrani (Hebrew), dan dengan demikian pula dalam nas Ibrani Perjanjian Lama
(The Old Testament of the Bible) (Tanakh orang-orang Yahudi),
adalah kata 'el dalam beberapa bentuknya, entah 'el-elyôn, dewa yang
tertinggi, banding dengan Kejadian fasal 14, 'el syaddai (dewa yang
kuasanya dahsyat), dan lain sebagainya atau kata 'elôah (kepanjangan
huruf kata vokal untuk menandai kebesaran). Dengan mengikut tata phonetik, maka
'elôah dalam bahasa Ibrani adalah sama dengan bentuk ilâh dalam bahasa
Arab. Dari bentuk 'elôah ini dibentuklah kata majmuk 'elôhim.
'Elôhim-lah yang paling kerap digunakan dalam Perjanjian Lama, di
mana kejamakan7nya menunjuk kepada kemahabesarannya (pluralis majestatis,
atau jamak kemuliaan yang pula dikenal dalam Al-Quran di mana perkataan Allâh
dikemukakan dengan kalimat nahnû yaituKami). Di samping itu, "tetragrammaton"
(YHVH, Yahveh) digunakan pula, namun ialah nama Allâh (Kel. 3:14 dsb).
Di kemudian waktu, nama itu
tidak diucapkan lagi melainkan dalam bacaan nas suci ia digantikan dengan ucapan
adônai (Tuhan, Lord) atau saja dengan kata sh'mâ/shema (bahasa
Aramik, band. bahasa Ibrani syêm dan bahasa Arab ‘ism, ertinya "nama
itu". Ucapan adônai atau shema hanya digunakan dalam
pembacaan, sedangkan dalam nas Ibrani yang tertulis, empat huruf “YHVH”
(kekadang juga “YHWH”) tetap ditulis. Kebiasaan ini mengundang
suatu kekeliruan di kalangan orang yang jahil dan yang tidak mengetahui mengenai
kebiasaan ini. Ketika tanda-tanda untuk huruf hidup (atau vowels)
ditambahkan kepada nas Kitab Suci bahasa Ibrani yang tertulis, maka tulisan YHVH
ditandai dengan huruf-huruf hidup dari kata adônai, dan kombinasi
ini memberikan kesan seolah-olah kata itu dibaca "Yehovah".
Kekeliruhan ini sampai kini
tetap dipertahankan oleh beberapa kelompok bidaat ‘Kristian’ (seperti Saksi
Yehovah) yang tidak tahu tentang aturan bahasa Ibrani dalam soal membaca nas
suci kitabiah. Jika YHVH merupakan nama Allah yang kemudian tidak diucap,
maka kata 'elôah, 'elôhim tetap digunakan dan boleh
samasekali diucapkan.
Kalimat
„Allâh"
itu
memanglah
bukan nama. Dalam agama Islam dikenal ada 99 nama Allâh yang
terindah (al-asmâ' al-husnà), dan di antaranya "Allâh" tidak disebut. Hanya
dalam tasawuf (aliran
mistik
sufi)
Islam sekali-kali dikatakan bahwa "Allâh" sebenarnya adalah nama yang ke-seratus
yang dalam dirinya tertuang semua 99 nama yang lain. Akan tetapi inilah bahasa
kesalihan
(piety) atau bahasa pemujaan/penyembahan,
bukan bahasa Ilmu Tauhid.
Dalam
terjemahan Perjanjian Lama atau Tanakh ke dalam bahasa Yunani yang
disebut Septuagint dan yang dikerjakan sekitar 150 tahun sebelum
Masehi oleh orang-orang Yahudi yang
bermukim
di Mesir, istilah
tetragrammaton
(yakni 4 huruf tulisan YHVH/YHWH)
dialihkan dengan kyrios (ertinya sama dengan adônai, Tuhan
atau Rabb),
dan dari situ pengunaannya diambil oleh umat Kristian dan Perjanjian Baru yang
juga telah
ditulis
ke dalam
bahasa Yunani. Sedangkan kata 'el, elôah atau elôhim dialihkan dengan
kata ho theos, "the
God/Sembahan
itu" yang sama ertinya dengan al-ilâh atau Allâh, dan demikian
pula penggunaannya
telah termuat
dalam
Perjanjian Baru (yaitu
Kitab Suci Injil).
Dalam khotbah
rasul Paulus di Areopagus di kota Athena, Paulus malah menghindari menyebut
dewa-dewa Yunani dengan kalimat
theoi (bentuk jamak/majmuk
dari theos
– ‘tuhan’)
ketika ia menyinggung rasa
keagamaan umat
Athena yang tinggi (Kisah
Para
Rasul
17:22). Kata yang dia
telah
pakai ialah
deisidaimonesterous, yang dalam bahasa Latin diterjemahkan dengan
superstitiosiores, "yang sangat percaya kepada hal-hal yang sangat
luar biasa". Jadi „dewa-dewa" Yunani disebut Paulus sebagai daimon, yakni
begu atau leyak dalam bahasa-bahasa suku Indonesia atau jinn
dalam bahasa Arab dan
bahasa Melayu.
Mereka bukan dewa, sehingga kata ho theos hanya digunakan untuk
menunjuk kepada Allah yang benar.
Hal ini kurang
diperhatikan dalam terjemahan AlKitab
bahasa Indonesia yang menterjemahkan
kata Yunani itu dengan „yang sangat beribadah kepada dewa-dewa"; terjemahan itu
tidak tepat. Dalam bahasa Alkitab, istilah-istilah yang digunakan diperiksa
dengan sangat saksama. Kesaksamaan yang dialektis itu juga nampak dalam Injil
Yohannes, umpamanya dalam dua ayatnya yang pertama di mana dalam
terjemahan-terjemahan perbezaan
di antara theos dan ho theos (ilâh dan Allâh) tidak diperhatikan. Kata (ho)
theos ini hanya digunakan untuk menunjuk kepada Allah yang benar dan tidak
digunakan untuk dewa-dewa orang politeis. Suatu teologi yang bersifat ilmiah
harus peka terhadap rincian-rincian seperti itu.
Melihat
kewaspadaan rasul Paulus dan para penulis Alkitab yang lain dalam perkataan yang
mereka pilih untuk menyebut Allah, maka menghairankan benar bilamana dalam
terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Indonesia, "dewa-dewa" orang-orang politeis
juga diterjemahkan dengan 'allah-allah". Terjemahan itu salah, baik dari sudut
teologi mahupun dari sudut filologi. "Dewa-dewa" itu,
paling boleh diterjemahkan dengan "ilah-ilah" sebagai pengganti
majmuk
bahasa Arab yaitu âliha, atau lebih baik lagi diterjemahkan dengan "dewa-dewa".
Juga tulisan "illahi (pakai dua "l") yang sering kita temui memang salah adanya!
Dalam
terjemahan Perjanjian Lama dan perjanjian Baru ke dalam bahasa Syria (suryani)
yang digunakan di Syria sebelum
munculnya
Islam dan yang
merupakan salah satu cabang bahasa Aramik
dan termasuk rumpun bahasa-bahasa Semitik, terjemahan mana dikerjakan baik oleh
orang-orang Yahudi mahupun Kristian, maka kata yang digunakan untuk "Allâh"
adalah lagi kata yang biasa digunakan dalam bahasa-bahasa Semitik, yakni yang
berakar dalam akar-kata 'l dan dalam bahasa Syria (suryani)
diucapkan alâhâ, "dewa itu" yang sama ertinya dengan ha-'elôah dalam
bahasa Ibrani, ho theos dalam bahasa Yunani dan Allâh (=
al-ilâh) dalam bahasa Arab.
Dengan demikian
tidak menghairankan pula bahawa orang-orang Islam menggunakkan kata Allâh (= al-ilâh)
untuk menunjuk kepada Allah yang benar, dan orang-orang Yahudi dan Kristian baik
yang sudah menggunakan bahasa Arab sebelum agama Islam disebarkan mahupun yang
kemudian menggunakan bahasa Arab setelah wilayah mereka dikuasai oleh
orang-orang Arab, memakai kata yang sama itu pula sebagaimana terbukti dari
syâ'ir-syâ'ir Kristian Arab pra-Islam dan tulisan-tulisan Kristian
Arab sesudah Islam datang. Tidak
masuk akal bagi
orang
Muslim pada waktu itu untuk mengurus bahasa orang yang bukan Muslim.
Jadi kata Allâh
sebagai salah satu kata yang memang tertanam dalam bahasa Arab dan senantiasa
digunakan oleh setiap orang yang menggunakan bahasa Arab itu, lepas dari ikatan
agamanya. Ia sudah digunakan oleh orang Arab di zaman pra-Islam yang sering
disebut "zaman jahiliyya", kemudian dipegang bersama-sama orang Yahudi dan
Kristian yang menggunakan bahasa Arab dan kemudian pula
orang-orang Islam, semua berdasarkan latar belakang etimologi kata itu
sendiri, akan tetapi dengan memberikan isi dan makna sesuai dengan pemahaman
teologi masing-masing yang berbeza satu sama dengan yang lain.
Tambah anehnya
bahwa masalah ini muncul di sebuah wilayah di mana bahasa Arab merupakan bahasa
asing. Yang "punya" bahasa itu sebenarnya pertama-kali
mereka yang menggunakannya dalam kehidupannya sehari-hari, termasuk dalam bidang
komunikasi umum mahupun keagamaan. Namun di antara orang Arab tidak muncul
masalah sebagaimana ia dikembangkan di luar wilayah yang berbahasa Arab itu.
Semua aliran keagamaan yang hidup di Timur Tengah menggunakan kata Allâh sesuai
dengan maknanya yang pokok, dan versi Arab dari Alkitab Kristian mahupun
kitab-kitab suci aliran-aliran yang lain menggunakannya sebagai bahagian
khazanah bahasa Arab itu. Sama halnya dalam bahasa sehari mahupun dalam liturgia.
Dari manakah
orang bukan Arab mengambil hak dan wewenang untuk menentukan siapa yang boleh
memakai bahasa atau kata Arab dan siapa tidak, kalau orang Arab sendiri tidak
peduli?
Hal itu diakui
pula dalam Al-Qur'an
sendiri di mana nabi Muhammad dalam percakapan dengan
umat Kristian dan Yahudi
menggunakan pula kata Allâh dan dengan sendirinya dicatatlah dalam buku suci
umat Islam itu bahawa orang Yahudi dan Kristian menggunakan kata yang sama.
Dalam tradisi Islam yang berbahasa Arab pun tidak pernah dipersoalkan bahawa
orang-orang Yahudi dan Kristian menggunakan istilah yang sama dengan
orang Islam untuk menyatakan Dia yang menjadi tujuan ibadah dan amal mereka.
Malah juga dalam "Perjanjian/Piagam Madinah" yang diadakan sesudah Hijriah, maka diakui
pula bahwa Yahudi (dan Kristian) memang berbeza dalam agama (dîn), namun mereka
tetap masuk ummat Allâh yang satu, yakni yang menyembah kepada Allah yang benar.
Dan hal ini diperkukuhkan
lagi
oleh Hadith yang memberitakan bahwa orang-orang Kristian dari
wilayah
Najran, ketika
mereka bertemu dengan nabi Muhammad di Madina untuk membicarakan hal-hal
dogmatik di mana mereka berselisih faham dengan nabi, mereka dengan sendirinya
diundang beliau untuk mengadakan ibadat mereka di musallah rumahnya kerana di
Madina tidak ada gereja. Maka diakui beliau bahwa mereka beribadat kepada Allah
yang sama meskipun dengan agama (dîn) yang berbeza. Mempersoalkan sikap nabi
Muhammad dan menafikannya dengan sikap yang melawannya, merupakan gejala yang
baru yang bertentangan dengan Al-Qur'an
dan sunnah
nabi, dan kerana itu semestinya disebut sebagai bid'at.
Bid'at itu
muncul umpamanya di Malaysia di mana orang-orang bukan Islam di beberapa
bahagian dilarang untuk menggunakan kata Allâh dan beberapa kalimat-kalimat Arab
lainnya.
Orang-orang
yang membujuk pemerintah Malaysia untuk tindakan itu sebenarnya jahil
terhadap agama Islam dan tradisi ajarannya yang bersumber pada Al-Qur'an
dan Sunnah
nabi Muhammad!
Kejahilan
itu boleh saja dianggap masalah mereka sendiri. Namun dengan mencampuri urusan
agama-agama orang yang lain yang mereka juga tidak
fahami!
Selain
agama Kristian maka agama orang Sikh dikena pula sebab dalam
buku-buku suci mereka sudah digunakan kata Allâh sehingga mereka
malah dilarang oleh pemerintah mereka membaca
Kitab
Suci
mereka dalam bahasa aslinya yang oleh mereka juga difahami sakral
(kudus/suci)
adanya – masalah itu menjadi masalah fitnahan dan intimidasi
sebenarnya! Di
mana orang-orang jahil itu hendak memaksakan pendapat mereka bahawa umat-umat
beragama lain memuja dewa selain Allah. Fitnahan itu melanggar tata
susila
dan akhlaq, suatu hal yang tidak layak bagi orang beragama dan yang meracuni
hubungan lintas agama
maupun lintas budaya.
Di Indonesia
dapat pula muncul masalah bilamana syahâdah
Islam yang pertama, la ilâha illa 'llâh, diterjemahkan: "tiada Tuhan
selain Allah". Terjemahan itu keliru kerana erti ilâh bukanlah
"tuhan" melainkan "dewa", sedangkan "tuhan" itu ialah rabb dalam
bahasa Arab, bukan ilâh atau Allâh. Hal itu pun tidak perlu menjadi masalah
selama setiap umat beragama mengurus ajarannya
masing-masing,
sesuai dengan nas dan maksud sila pertama dalam Pancasila.
Namun ia
menjadi masalah bilamana pemeluk salah satu agama merasa diri terpanggil untuk
mentafsirkan
dan menghasut ajaran agama yang lain dengan bertolak dari ajaran agamanya
sendiri. Umat Kristian mengaku Yesus Kristus ('Isa al-Masih) sebagai Tuhan (rabb)
berdasarkan faham mereka tentang penyataan Allah yang menyatakan DiriNya dan
KehendakNya sebagai yang tritunggal. Jadi menyebutkan Yesus sebagai "Tuhan"
dengan mengingat latar belakang kata itu dalam Alkitab yakni YHVH atau
nama Allah dengan yang mana Allah memperkenalkan diri, bererti bahawa
tetap Allah yang satu
itu
ditujukan melalui penyataanNya. Tidak
mungkin mempertentangkan atau memisahkan
Yesus Kristus sebagai penyataan dengan Allah yang menyatakan DiriNya di dalamnya
dan yang sekaligus berkuasa melalui Rohnya yang kudus. Inilah faham tentang
Allah yang tritunggal yakni Allah yang sama dan satu yang melalui wahyuNya
sendiri memperkenalkan Diri dalam tiga penampilan yang berbeza.
Namun diketahui
pula bahawa di antara orang-orang Islam ada yang menuduh orang Kristian
percaya pada tiga dewa di mana Allah dipisahkan dari Yesus Kristus dan
Rohulkudus, atau malah Maryam. Atas latar belakang tuduhan itu maka sebutan
Yesus Kristus sebagai Tuhan boleh menimbulkan kesan seolah-olah dia disembah di
samping, atau selain Allah dan jika itu diterima, maka orang Kristian boleh juga
dituduh berdiri di luar Pancasila dan Ketuhanan yang Maha Esa.
Huraian
seperti itu memang mentahrifkan (memutarbalikkan) ajaran Kristian,
namuan rupanya ia tetap disebarluaskan dan malah digemari oleh pihak yang tidak
faham dan suka memfitnah.
Kenyataan itu sayogianya
merangsang orang-orang Kristian sendiri untuk senantiasa memeriksa kembali
bahasa ajaran teologi dan pengakuan mereka sendiri supaya jangan mereka sendiri
turut menimbulkan kesalahfahaman seperti itu. Kelalaian dalam bahasa iman harus
dihindarkan. Jika umpamanya dalam cetakan Pengakuan Iman Rasul-rasul
dicetak begini:
Aku
percaya kepada Allah, Bapa yang Mahakuasa ….. dst.
dan kepada
Yesus Kristus …..dst.,
dan aku
percaya kepada Rohulkudus ….. dst.
maka dengan
sendirinya timbul kesan seolah Allah dan Bapa itu sama sedangkan dua penyataan
Allah yang lain (Yesus Kristus dan Rohul-kudus) berbeza. Yang seharusnya dicetak
ialah:
Aku percaya
kepada Allah:
1) Bapa yang
mahakuasa…, dan
2) Yesus
Kristus… dan
3) Aku
percaya kepada Rohulkudus… dst.
Sehingga titik
1 s/d 3 menjadi jelas sebagai penerangan tentang Allah yang satu dan siapa Dia
dan pekerjaanNya. "Penerangan" dalam bahasa teologi atau kalam, ialah penyataan atau wahyu.
Jadi faham tentang Allah yang tritunggal bukanlah hasil pemikiran manusia
melainkan isi dari penyataan Allah terhadap Diri sendiri. Demikian pemahaman
orang Kristian.
Sebenarnya
tidak pernah ada perselisihan antara Muslimin dan Kristian menenai syahada Islam
yang pertama: tiada ilâh selain daripada Allâh. Perselisihan muncul
berhubung dengan bahagian syahâda bahagian kedua: "dan aku menyaksi bahwa
Muhammad rasûl Allâh". Pengakuan ini ialah ciri khas dîn al-Islâm. Namun
kenyataan ini pun sesuai dengan ucapan Perjanjian Medina: Ummat Allah ialah satu
ummat (ummatu 'llâh ummatun wahîda),
akan tetapi: Li-l-Yahûd dînuhum wa-li-l-Muslimîna dînuhum (kepada Yahudi
dîn – agama – mereka dan kepada Muslimin dîn mereka). Demikian sikap dan
ketentuan Islam yang asli: satu ummat kerana satu Allah, namun dîn berbeza
kerana nabi masing-masing berbeza. Bagaimana mereka yang hendak
mempertentangkan sebahagian ummat Allah terhadap yang lain membenarkan sikap
mereka di hadapan ketetapan nabi Islam sendiri?
Oleh kerana
latar belakang etimologi dan sebahagian pula tradisi kepercayaan bersama
agama-agama yang dalam tradisi Islam disebut "agama-agama surgawi" (al-adyân
as-samâwiyya) maka orang-orang Islam yang tinggal sekarang di benua Eropah
atau Amerika di tengah-tengah umat Kristian dan yang menggunakan bahasa-bahasa
Eropah, sejak lama menuntut bahawa mereka pula dapat menerjemahkan kata Allâh ke
dalam bahasa-bahasa Eropah itu menjadi God, Gott, Dieu dan lain-lain. Mereka
dulu dihalang oleh beberapa tokoh gereja yang menuduh bahwa "Allah" ialah dewa
lain dari pada yang dikenal di Eropah.
Namun tuntutan
orang Islam itu memang tidak dapat ditolak kerana "Allâh" bukan nama melainkan
sebutan, dan Allah hanya ada satu sedangkan yang berbeza ialah agama-agama.
Ataukah harus orang-orang Eropah mengikuti contoh fitnahan dan melarang
orang-orang Islam (dan yang menganut agama lain pula) menggunakan kata-kata
Eropah itu, dengan latar belakang fikiran dalam benaknya bahawa "Allah"
merupakan nama pahala orang-orang Arab dan Islam dan tidak boleh diucapkan
dengan kata bahasa orang Eropah? Lucu atau fasik idea
itu, dan fitnahan hanyalah berbalik! Namun sama anihnya
bilamana sebuah pemerintah merasa berwewenang untuk mencampuri urusan agama dan
akidah
orang ramai, yakni
rakyatnya sendiri!
Bagaimanakah
seandainya
penganut-penganut agama
Buddha
di Malaysia atau Indonesia mahu melarang orang-orang Islam untuk menggunakan
istilah-istilah yang masuk ke dalam bahasa Melayu dari bahasa Sanskrit
melalui tradisi Buddhisme pada zaman kerajaan Sri Wijaya sebelum Islam,
seperti kata-kata dosa, karunia/kurnia,
manusia, syurga, duka, suka, rasa, cita
dan puluhan lainnya yang punya konotasi keagamaan?
Bahasa adalah
cara dan
alat komunikasi
di antara manusia. Kalau mahu
menyampaikan sesuatu
dengan tepat, maka bahasa harus juga tepat. Tiga agama
monotheistik
yang mengaku
Abraham (Ibrahim) sebagai "nenek-moyang"
dan leluhur
iman mereka
memang punya banyak kesamaan – di samping perbezaan pula – sehingga dalam soal
mengungkapkan keyakinan keagamaan mereka, mereka sering menggunakan bahasa yang
sama, meskipun diberikan definisi berbeza sesuai dengan rincian keyakinannya.
Bahasa yang membawa faham monotheistik ke kawasan Asia Tenggara ialah bahasa
Arab yang dibawa oleh pemeluk Islam sehingga ia diambil oleh para Muslim Melayu
dulu, sama seperti di India Utara (bahasa Urdu) atau malah Persia.
Orang Kristian
yang berbahasa Melayu dan yang juga monotheistik mempertahankan bahasa itu
bersama dengan kata-kata Arab kerana mereka temui banyak konotasi yang mereka
sudah mengenal dari perkembangan agama-agama mereka di Timur Tengah yang
berbahasa Arab. Sudah terjemahan-terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Melayu yang
dikerjakan abad ke17 dan ke-18 menggunakan kata-kata itu. Sementara ini bahasa
Melayu sudah dijadikan bahasa nasional baik di Indonesia mahupun di Malaysia,
yakni ia bukan secara eksklusif "bahasa agama". Dengan demikian, penggunaan
bahasa Melayu dengan segala khazanah linguistiknya sekarang ialah hak seluruh
bangsa, bukan sebahagiannya sahaja.
Menggugat kenyataan ini menimbulkan pertanyaan bukan saja mengenai faham
keagamaan melainkan juga mengenai faham kebangsaan mereka yang hendak
mempertentangkan satu kelompok terhadap yang lain.
Memang tidak
dapat disangkal adanya suatu masalah. Namun yang menjadi masalah ialah soal
dogmatika atau 'aqîdah
sebab tiga agama surgawi itu mempunyai faham dogmatik yang berbeza mengenai
Allah yang sama, baik hakikat-Nya mahupun
pula mengenai cara penyataan-Nya dan tindakan-tindakan-Nya. Namun soal dogmatik
adalah satu hal, dan soal bahasa sebagai alat komunikasi antara manusia adalah
hal yang lain.
Bahasa tidak
dapat dibatasi pada satu falsafah atau agama tertentu saja. Hal itu berlaku juga
bagi bahasa Arab yang merupakan ciptaan manusia (yakni manusia Arab). Juga kalau
Allah – menurut kepercayaan umat Islam – memilih bahasa Arab untuk wahyunya yang
terakhir maka bahasa Arab tetap bahasa manusia, bukan bahasa keramat!
Sebagai alat komunikasi ia bebas untuk diguna-pakai
oleh mereka yang hendak berkomunikasi.
Pluraliti
agama (dîn) diterima dalam Al-Quran.
Yang mana yang benar dan yang mana yang tidak benar pada akhirnya akan
diterangkan oleh Allah sendiri. Sementara ini kelompok-kelompok diajak untuk
berlumba-lumba
membuat apa
yang baik (Sura
al-Mâ'ida 5:48 dan di lain tempat). Memfitnah dan menghasut orang-orang yang
lain agamanya tidak masuk dalam perbuatan al-khairât.
Notakaki
:
Nota-nota kaki dan
sumber-sumber ilmiah makalah ini tidak disertakan di dalam edisi on-line
ini.
Indeks Utama