返回总目录
muslim-bangga
Versi Indon
BANGGA SEBAGAI SEORANG MUSLIM
Al Qur'an menyatakan bahwa:
Sesungguhnya agama di sisi Allah (hanyalah) Islam .... Barang siapa yang mencari agama
selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya. (Ali
'Imran 3:19,85).
Al Qur'an menyatakan hal ini kerana kata 'Islam' itu sendiri bererti menyerahkan diri
kepada Allah SWT Yang Maha Pencipta. Selanjutnya Al Qur'an juga menyatakan:
Sesungguhnya orang-orang beriman, orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang
Shabiin, barangsiapa yang beriman kepada Allah, hari kemuddian dan beramal saleh, mereka
akan menerima pahala di sisi Tuhan mereka, tidak ada ketakutan bagi mereka, dan tidak
(pula) mereka berduka cita. (Al Baqarah 2:62).
Golongan orang-orang yang disebutkan oleh Al Qur'an di atas tidak secara langsung
disebut 'Muslim', sehingga patut dipertanyakan, bagaimana agama mereka dapat diterima? Hal
ini sungguh menimbulkan berbagai pertanyaan seperti di bawah ini:
Apa sebenarnya erti kata
'Muslim' itu sendiri?
Apakah sebutan 'Muslim' hanya berlaku untuk para pengikut Nabi Muhammad saja?
Apakah agama Islam berawal dari Nabi Muhammad?
Terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas Al Qur'an sudah memberikan jawapannya.
Nabi Ibrahim Adalah Seorang Muslim
Al Qur'an menyatakan:
Tidaklah Ibrahim itu seorang Yahudi dan tidak (pula) orang Nasrani, tetapi dia seorang
yang lurus lagi muslim. (Ali 'Imraan 3:67).
Disini nabi Ibrahim ternyata disebut sebagai seorang muslim (berserah kepada Allah)
meskipun beliau sendiri masa hidupnya jauh sebelum nabi Muhammad.
Kaum Hawariyun (Murid-murid Isa Al Masih) Adalah Orang-orang Muslim
Al Qur'an menyatakan:
Dan (ingatlah) ketika Aku ilhamkan kepada hawariyun (para sahabat Nabi Isa) agar mereka
beriman kepada-Ku dan kepada rasul-Ku! Mereka menjawab, "Kami telah beriman dan
saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim. (Kata-kata terakhir ini,
dapat diterjemahkan secara harfiah 'kami sudah menjadi orang muslim sebelumnya.') (Al
Maa-Idah 5:111).
Seperti halnya nabi Ibrahim, kaum Hawariyun ini juga disebut orang-orang muslim
meskipun mereka hidup sebelum masa nabi Muhammad.
Di Antara Orang-orang yang Hidup Sezaman dengan Nabi Muhammad Juga Terdapat Orang-orang
Muslim
Di dalam Al Qur'an dapat kita membaca:
Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka sebelumnya (Al Qu'ran), mereka
beriman dengannya. Dan apabila dibacakan (Al Qur'an) kepada mereka, mereka berkata:
"Kami beriman dengannya; sesungguhnya dia adalah kebenaran dari Tuhan kami.
Sesungguhnya kami sebelumnya adalah berserah diri (muslim). (Al Qashash 28:52,53)
Jika diterjemahkan secara harfiah, maka kata terakhir dari ayat 53 tadi mempunyai erti
: "Kami adalah orang-orang Muslim sebelumnya (Al-Quran)."
Nabi Muhammad Mendapatkan Perintah Agar Menjadi Seorang Muslim
Di dalam Al Qur'an, nabi Muhammad sebelum beriman kepada Allah diuraikan sebagai
berikut: "Engkau (sebelumnya) tidak fahami Kitab dan apa iman
itu," (Asy Syuura 42:52). Di dalam surat An Naml 27:91 nabi Muhammad
berkata:"...dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri
(muslim)," atau secara harfiah, nabi Muhammad diperintahkan menjadi bahagian dari
golongan orang-orang 'Muslim.' Dan kalau kita baca surat Yunus 10:72, dapat kita temui
bahwa semasa nabi Muhammad hidup, sudah terdapat orang-orang muslim. Pada saat nabi
Muhammad belum mengetahui tentang Al Kitab atau pun apakah iman kepada Allah itu,
orang-orang yang hidup dengan tuntunan Al Kitab itu (kaum Ahli Kitab) sudah memiliki Al
Kitab dan beriman kepada Allah SWT. Selanjutnya mereka menyatakan kepada nabi Muhammad
bahwa mereka sudah termasuk golongan orang-orang Muslim sebelum kedatanganya, dan apa yang
disampaikan kepada mereka olehnya bukanlah sesuatu yang baru. Bahkan menurut Al Qur'an
surat An Naml ayat 91 yang disebutkan di atas, nabi Muhammad diperintahkan untuk masuk ke
dalam golongan mereka yang adalah golongan orang-orang muslim tersebut.
Nama Islam Bukanlah Sesuatu yang Baru
Di dalam ayat-ayat yang sudah dipaparkan tadi (Al Qashash 28:52,53 dan Al Maa-Idah
5:111), kata 'Muslim' kadang-kadang diterjemahkan sebagai 'menyerahkan diri kepada
Allah'. Dengan demikian kata 'Muslim' tersebut dijadikan sebagai kata kerja dan bukan
kata benda.
Bagaimana pun juga terjemahan ini jelas-jelas kurang tepat sebab tidak konsisten dengan
apa yang dinyatakan oleh Al Qur'an sendiri di dalam surat Al Hajj 22:78 yaitu:"...Dia
(Allah) telah menamakan kamu muslimin dari dahulu, dan dalam Al Qur'an ini." Ayat ini
secara terus-terang menegaskan bahwa Allah telah menyebut 'Muslim' terhadap orang-orang
yang beriman kepada-Nya di dalam Kitab-kitab sebelum Al Qur'an dan juga di dalam Al
Qur'an.
Berdasarkan ayat-ayat Al Qur'an di atas, kita dapat mengatakan bahwa nabi Ibrahim
adalah orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah dan disebut juga Muslim,
murid-murid atau pengikut Isa Almasih adalah orang-orang Muslim pula, dan kiranya
Allah menjadi saksi mereka; dan bahkan kaum Ahli Kitab (Nasrani) yang hidup pada masa nabi
Muhammad juga menyatakan bahwa mereka telah lebih dulu Muslim sebelum nabi Muhammad
menjadi Muslim.
Keterangan dari Al Qur'an Mengenai Para Pengikut Isa Almasih
Lebih lanjut Al Qur'an menerangkan bahwa orang-orang yang telah diberi Al Kitab
sebelum Al Qur'an (yaitu orang-orang yang menyatakan diri sudah menjadi Muslim sebelum
kedatangan nabi Muhammad), "...diberi pahala dua kali ganda disebabkan kesabaran
mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, serta menafkahkan sebahagian
dari apa yang telah Kami beri kepada mereka. Dan apabila mereka mendengar perkataan yang
sia-sia, mereka berpaling darinya dan mereka berkata:"Bagi kami amal kami dan bagi
kamu amalmu, keselamatan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang
jahil." (Al Qashash 28:54,55).
Sedemikdian dalamnya kesan yang ditangkap nabi Muhammad tentang orang-orang Muslim
terdahulu (para pengikut Hawariyun). Kita dapat mengetahui bahwa mereka adalah para
pengikut Isa Al Masih dari apa yang telah mereka perbuat, yaitu mereka membalas kejahatan
dengan kebaikan. Hal ini sungguh merupakan bukti ketaatan mereka terhadap apa yang telah
disabdakan (difirmankan) oleh Isa Almasih yang adalah Firman Allah dan Ruh Allah.
Beginilah bunyi sabda (firman) tersebut:
"Tetapi kepada kamu yang mendengar Aku, Aku berkata: "Kasihilah musuhmu,
berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu, mintalah berkat bagi orang yang mengutuk
kamu, berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Barangsiapa menampar pipimu yang satu,
berikanlah juga pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga dia
mengambil bajumu. Berilah setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta
kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu. Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya
orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.
Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? kerana orang-orang
berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jika kamu berbuat baik
kepada orang yang berbuat baik kepadamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat
demikian. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, kerana kamu berharap akan
menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada
orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah
musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan,
maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Maha Tinggi, sebab dia
baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang
jahat." (Kitab Muqadas (Injil) Lukas 6:27-35).
Orang-orang yang tertera di dalam firman Isa Almasih inilah yang dimaksudkan Al Qur'an
sebagai orang-orang yang "
diberi pahala dua kali ganda." Dengan demikian,
tidakkah Anda merasa bangga menjadi satu golongan dengan orang-orang Muslim terdahulu
tersebut?
Kedudukan Kaum Ahli Kitab di Dalam Al Qur'an
Orang-orang Muslim terdahulu ini, benar-benar dihargai baik oleh nabi Muhammad maupun
oleh Al Qur'an sendiri. Hal ini disebabkan pada saat-saat nabi Muhammad berada di dalam
keragu-raguan, kepada merekalah dia harus meminta penjelasan agar menyelenyapkan
keragu-raguanya tersebut. Mari kita lihat apa yang dikatakan Al Qur'an mengenai hal
tersebut:
Maka jika engkau (Muhammad) dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan
kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab [secara harafiah: Al
Kitab] sebelum engkau. Sungguh telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu
janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang ragu. (Yunus 10:94)
Maka patutkah aku mencari hakim selain dari Allah, padahal Dia-lah yang telah
menurunkan Kitab kepada kamu dengan terperinci? Dan orang-orang yang telah Kami beri Kitab
kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Qur'an sebenarnya diturunkan dari Tuhanmu, maka
janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.
Dan telah sempurnalah kalimat Tuhan engkau (Al Qur'an), dengan benar dan adil. Tidak
ada yang dapat merobah kalimat-kalimat-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
(Al An'Aam 6:114-115).
Jadi, apakah yang telah diwahyukan kepada nabi Muhammad yang dia sendiri masih
meragukannya? Jelaslah bahwa yang diwahyukan itu adalah Al Qur'an.
Meskipun yang menyampaikan wahyu itu adalah malaikat Jibril, nabi Muhammad diminta
untuk mencari nasihat dan dorongan kepada kaum Ahli Kitab (Nasrani) untuk mengukuhkan
keyakinannya, saat mengalami keragu-raguan tentang wahyu yang diturunkan kepadanya
tersebut (Al Qur'an).
Umat Ahli Kitab itu tidaklah memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari pada malaikat
Jibril. Mereka hanyalah segolongan orang yang memiliki Kitab Tuhan (Firman Allah) yang
diturunkan terlebih dahulu. Dalam Al Kitab mereka tersebut terkandung wahyu-wahyu yang
diturunkan kepada ramai nabi sebelum nabi Muhammad. Mereka yang adalah sumber keyakinan
rohani bagi nabi Muhammad dalam masa-masa keraguannya, memiliki nilai dan kekuasaan serta
pengetahuan yang didapatkan kerana mereka "membaca Al Kitab."
Kepada nabi Muhammad Al Qur'an menyatakan: "Maka jika engkau berada dalam
keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang
yang membaca Kitab sebelum engkau." (Yunus 10:94). Kita tentu tahu bahwa perintah ini
harus ditanggapi secara serius, kerana pada ayat yang lain nabi Muhammad juga
diperingatkan setegas-tegasnya agar tidak berpaling dari kebenaran yang telah diturunkan
sebelumnya.
Sekiranya tak diragukan lagi bahwa nabi Muhammad diminta untuk merujuk kepada umat yang
membaca Al Kitab terlebih dahulu sebagai pengesahan muktamad dan tertinggi tentang
kebenaran. Mereka yang membaca kitab-kitab sebelumnya memiliki iman yang sedemikian kuat,
kerana berdasarkan kepada apa yang terdapat di dalam Al Kitab yang diturunkan sebelum Al
Qur'an. Mereka adalah manusia biasa yang hidupnya di bumi, bukan di syurga. Mereka hidup
sezaman dengan nabi Muhammad, dan pada mereka terdapat Al Kitab yang menjadi induk dan
sumber bagi mereka dalam memutuskan perkara-perkara kebenaran secara menyeluruh.
Mereka, kaum ahli Kitab itu, tidak hanya sekedar memiliki Al Kitab saja, tapi mereka
juga nyata-nyata sebagai kaum yang mematuhi perintah-perintahnya. Di dalam Al Qur'an
dinyatakan:
"Mereka itulah orang-orang yang telah Kami beri kitab, hukum dan kenabian. Sebab
itu jika mereka itu (Quraisy) mengingkarinya, maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya
kepada kaum yang tidak mengingkarinya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi
petunjuk oleh Allah, sebab itu ikutilah petunjuk mereka." (Al An'Aam 6:89-90)
Dalam ayat ini nabi Muhammad diperintahkan untuk dibimbing oleh orang-orang yang
menerima Al Kitab sebelumnya (kaum Ahli Kitab). Nabi Muhammad juga diminta untuk
menanyakan hal-hal yang diragukannya agar dapat lepas dari keragu-raguannya tersebut.
Bahkan dia diperintahkan pula untuk mengikuti petunjuk orang-orang yang sama yang sudah
diberi Al Kitab oleh Allah tersebut. Mereka itulah orang-orang yang hidup sezaman dengan
nabi Muhammad, sebab bagaimana mungkin dia dapat meminta petunjuk kepada orang yang sudah
meninggal?
Orang-orang muslim yang taat melakukan solat, pada setiap hari berdoa seperti yang
terdapat di dalam surat Al Faatihah ayat 6-7.
Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau berikan
nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (jalan) mereka yang
sesat. (Al Faatihah 1:6-7)
Jadi sekarang kira-kira siapakah yang dimaksudkan dengan orang-orang yang telah diberi
hikmat oleh Allah tersebut? Jelaslah mereka itu adalah kaum Ahli Kitab. Allah telah
memberi kepada mereka di atas kaum manapun di dunia ini kerana mereka memiliki Al Kitab
yang diturunkan dari Allah. kerananya ungkapan "Ahli Kitab" yang terdapat
di dalam Al Qur'an hanya dapat diertikan sebagai mereka yang menjadi orang-orang Muslim
terdahulu itu.
Berdasarkan Al Qur'an surat Al An'Aam 6:89-90 yang sudah disebutkan sebelumnya, jika
nabi Muhammad saja diperintahkan untuk mengikuti petunjuk kaum Ahli Kitab, demikian pula
para pengikutnya (nabi Muhammad) tentu harus mengikuti petunjuk tersebut.
Kita telah melihat bahwa gelar 'Muslim' juga berlaku untuk kaum Ahli Kitab baik yang
hidup sebelum masa nabi Muhammad maupun yang hidup sezaman dengannya. Mereka inilah yang
menurunkan ajaran-ajaran dan tradisi-tradisi nabi Ibrahim sampai kepada masa Isa Al Masih.
Sebahagian tidak hanya memiliki Kitab Suci, tapi juga mengamalkannya dengan
sungguh-sungguh sehingga wajarlah kalau nabi Muhammad datang meminta petunjuk kepada
mereka ketika mengalami keragu-raguan tentang apa yang diturunkan di dalam Al Qur'an.
Para Pengikuti Isa Almasih Tetap Akan Ada Sampai Kepada Hari Kiamat
Sehubungan dengan para pengikut Isa Al Masih dan Hari Kiamat, Al Qur'an menyatakan:
(Ingatlah) tatkala Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu
dan mengangkatmu kepada-Ku dan akan menyucikanmu dari orang-orang yang kafir, dan
menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas mereka yang kafir hingga hari
kiamat." (Ali 'Imraan 3:55)
Menurut bahagian terakhir dari ayat tadi Allah berjanji bahwa:
1. dia akan menempatkan para pengikut Isa Al Masih di atas orang-orang kafir.
2. Dukungan Ilahi ini akan tetap berlaku sampai datangnya Hari Kiamat. Hal ini bererti
bahwa pengikut Isa Al Masih itu harus tetap ada, mulai dari zaman Isa Al Masih sampai
zaman nabi Muhammad dan seterusnya sampai zaman sekarang, yaitu dari generasi ke generasi
sampai nanti Hari Kiamat. Di samping itu, para pengikut Isa Al Masih tidak hanya akan
terus ada, tapi mereka juga mempunyai keutamaan di atas orang-orang kafir.
Ibnu Garir atas nama Ibnu Yazid menyatakan bahwa yang dimaksud dengan pengikut Isa Al
Masih di dalam Ali 'Imraan 3:55 tadi adalah orang-orang Nasrani. Lebih lanjut menurutnya:
Orang-orang Nasrani mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari orang-orang Yahudi
sampai Hari Kiamat, sebab tidak ada satu negarapun di mana penduduk Yahudinya lebih tinggi
dari penduduk Nasrani. Sehingga baik di barat maupun di timur, orang-orang Yahudi selalu
tertindas.[1]
Imam Tirmidzi mengutip sebuah hadis sebagai berikut:
Rasulullah S.A.W. bersabda: "Demi Dia yang telah mengutusku dengan kebenaran, aku
berkata sesungguhnya Putera Maryam akan mendapati kaumku sebagai pengganti
murid-murid-Nya."[2]
Dengan demikian, apa sebetulnya maksud ayat-ayat tersebut bagi kita?
1. Murid-murid Isa Al Masih (Hawariyun) adalah orang-orang Muslim. (Al Maa-Idah
5:111).
2. Para pengikut Hawariyun menyatakan diri kepada nabi Muhammad bahwa mereka
terlebih dahulu adalah orang-orang Muslim. (Al Qashash 28:52-53).
3. Menurut Ali 'Imraan 3:55 bahwa di hadapan Allah para pengikut Isa Al Masih itu akan
terus tetap Muslim dan mempunyai kedudukan jauh lebih tinggi di atas orang-orang kafir
hingga Hari Kiamat. Sungguh alangkah berbahagianya jika menjadi salah seorang dari kaum
Muslim semacam itu.
GELARAN "AL KITAB" DI DALAM AL QUR'AN
Kaum Ahli Kitab yaitu kaum yang padanya terdapat Al Kitab bukan hanya mendapat
kedudukan sebagai orang-orang Muslim yang pertama dan asli, tapi Al Kitab merekapun
dinyatakan sebagai Al Kitab yang asli pula. Nabi Muhammad tidak pernah menyatakan
diturunkan kitab suci baru. Bahkan dia menyatakan bahwa Al Qur'an merupakan Al Kitab yang
telah diwahyukan sebelumnya yaitu Injil. Hal ini dipertegas dengan apa yang dinyatakan di
dalam Al Qur'an itu sendiri:
Kemudian Kami telah memberikan Kitab (Taurat) kepada Musa menyempurnakan (nikmat Kami)
atas orang-orang yang berbuat kebaikan, dan penjelasan bagi segala sesuatu dan sebagai
petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman akan menemui Tuhannya. Dan inilah kitab yang Kami
turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertawalah agar kamu diberi rahmat. Agar
kamu tidak mengatakan: "Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja
sebelum kami, dan sesungguhnya kami lalai dari membaca kitab mereka, atau agar kamu
(tidak) mengatakan: "Sesungguhnya, kalau kitab itu diturunkan kepada kami, niscaya
kami lebih mendapat petunjuk dari mereka." (Al An'Aam 6:154-157).
Di sini nabi Muhammad menyatakan kepada kaumnya bahwa mereka tak mempunyai dalih lagi.
Kitab Suci yang telah diturunkan kepada dua golongan sebelumnya yaitu kaum Yahudi dan kaum
Nasrani telah datang kepada mereka. Jadi ditinjau dari sejarah dan secara teologik, kata asli
'Al Kitab' atau 'kitab' dalam ayat di atas mengacu kepada Taurat dan Injil. Nabi Muhammad
menyatakan bahwa apa yang dia sampaikan kepada kaumnya tidak lain dari pada Al Kitab yang
sudah diturunkan kepada dua golongan yang beriman sebelum mereka.
Kata Al Qur'an dalam ayat tadi disebut 'kitab' sedangkan Taurat/Injil disebut 'Al
Kitab'. Dengan kata lain, Al Qur'an disebut sebagai kitab dalam erti umum (tanpa article)
sedangkan Al Kitab (Bible) disebut secara khusus (dengan diawali kata Al sebagai article).
Di lain tempat kita juga dapat temukan bahwa Al Qur'an itu tidak lain dari pada wahyu dari
Al Kitab, yaitu Taurat, Zabur dan Injil, seperti yang dinyatakan oleh ayat Al Qur'an
berikut:
" Dan yang telah Kami wahyukan kepadamu dari Al Kitab (Al-Qur'an) adalah
yang hak, membenarkan apa-apa yang sebelumnya (kitab-kitab)." (Al Faathir 35:31).
Perbedaan antara Injil dan Al Qur'an hanya kerana Taurat dan Injil itu diwahyukan dalam
bahasa yang tidak difahami oleh bangsa Arab, sementara Al Qur'an diturunkan dalam bahasa
ibu mereka. Perbedaan ini tertulis di dalam Al Qur'an: "Sesungguhnya Kami menjadikan Al
Qur'an berbahasa Arab supaya kamu berfikir." (Az Zukhruf 43:3).
Jadi, ada dua buah Al Qur'an yaitu Al Qur'an yang berbahasa Arab dan yang bukan
berbahasa Arab. Tapi Al Qur'an yang bukan berbahasa Arab tersebut telah dibuat dalam
bahasa Arab sehingga orang-orang Arab dapat memahaminya.
Selanjutnya Al Qur'an juga menyatakan: " Dan sebelum Al Qur'an itu telah ada kitab
Musa sebagai ikutan dan rahmat, sedang ini (Al Qur'an) satu kitab yang membenarkan dalam
bahasa Arab untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim dan menggembirakan
orang-orang yang berbuat kebajikan." (Al Ahqaaf 46:12). Sekali lagi apabila dikaitkan
dengan Al Kitab, Al Qur'an disebut kitab, sementara Kitab Suci Injil disebut Al
Kitab. Menurut ayat di atas (jika diterjemahkan sebenarnya), kitab Musa itu disebut 'kitab
Imam'. Oleh kerana itu Al Kitab adalah yang dasar dan yang asli.
Hal ini juga terlihat dari kata 'Qur'an' itu sendiri. Sebenarnya kata 'Qur'an'
ini bukanlah berasal dari bahasa Arab, melainkan bahasa Aramaik. Dr. Shobby as-Shaleh
menyatakan: "Allah telah memilih nama baru bagi wahyu-Nya, yang nama itu berbeda dari
nama yang digunakan bangsa Arab baik secara umum maupun secara khusus."[3] Dr. Shobby
as-Shaleh juga mengatakan: "Sebelum adanya Islam, ketika bangsa Arab menyebut kata
(qara'), itu bererti hamil atau melahirkan. Sedangkan kata qara' dengan erti
'membaca' adalah berasal dari bahasa Aramaik.[4]
Bahkan kata 'kitab' yang merupakan sebutan bagi Al Qur'an pun menurut Dr. Shobby
bukanlah bahasa Arab, tetapi juga bahasa Aramaik.[5] Bukan hanya kata-kata itu saja yang
merupakan bahasa Aramik, tapi kata-kata lain seperti kata al-Furqan. Menurut Dr.
Salih, bahkan kata ini juga berasal dari bahasa Aramik. [6] Selain itu Al Qu'ran sebagai
kitab disebut Mus-haf, yang bukan merupakan bahasa Arab. Dr. Shalih selanjutnya
mengatakan bahwa: "Pada waktu ayat-ayat Al Qur'an dikumpulkan dan ditulis di atas
kertas, ada beberapa orang mengcadangkan untuk memberi kumpulan ayat-ayat itu dengan nama Sifr.
Tapi cadangan ini ditolak sebab nama ini telah dipakai oleh orang Yahudi sebagai nama
kitab mereka. Sementara itu beberapa orang lain lagi mengcadangkan untuk memberi nama mushaf
sebagai mana orang Nasrani di Ethiopia (Habsyah) memakainya untuk menamai kitab suci
mereka."[7] kerana sejak semula Al Qur'an menyatakan hanya memuat apa yang terdapat
di dalam kitab-kitab sebelumnya, maka wajarlah kiranya kalau dia memakai nama yang bukan
bahasa Arab tetapi sebenarnya diperoleh dari Kitab-kitab yang sebelumnya.
Telah banyak pendapat yang menyatakan bahwa Al Kitab telah dicemari dan dipalsukan. Al
Qur'an menyatakan: "Dan kami telah menurunkan kepadamu (Muhammad) kitab Al Qur'an
dengan (membawa) kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya dari Alkitab dan menjadi
kesaksian atasnya" (Al Maa-Idah 5:48). Ayat ini secara jelas menyatakan bahwa Al
Qur'an diturunkan untuk mengukuhkan dan menjadi kesaksian atas wahyu-wahyu yang diturunkan
sebelumnya. Jika Al Kitab dikatakan telah dipalsukan, hal itu sama saja mengatakan bahwa
Al Qur'an gagal mencapai tujuan. Apakah patutnya dikatakan, bahwa Al Qur'an tidak
sempurna?
Kita telah melihat sebelumnya bahwa saat nabi Muhammad berada dalam keragu-raguan, dia
selalu mengacu atau merujuk kepada Al Kitab yang diturunkan sebelumnya untuk menghilangkan
keragu-raguannya tersebut. Biasanya orang demi mendapatkan kejelasan tak akan merujuk atau
mengacukan diri kepada sesuatu yang lebih rendah kedudukannya, tetapi sebaliknya kepada
sesuatu yang mempunyai kewibawaan yang lebih tinggi. Ketika nabi Muhammad mengacu kepada
Injil, dia merujuk kepada Al Kitab yang mempunyai kedudukan lebih tinggi. Meskipun
padanya telah diberi Al Qur'an, nabi Muhammad tetap ragu-ragu. Namun begitu dia merujuk
kepada Al Kitab, akibatnya hilanglah semua keraguannya itu. Dengan kenyataan ini, akankah
Allah membiarkan firmanNya di dalam Al Kitab dipalsukan atau didustakan yang dapat
menghilangkan keraguan2 nabi Muhammad itu? Nah, kalau ada orang yang berani mengatakan
bahwa Firman Allah dapat atau telah dipalsukan, keberanian ini sama dengan menghina dan
menyerang Allah Yang Maha Tinggi dan Agung sebab apa yang dikatakan orang tadi merupakan
tuduhan hina bahwa Allah tidak mampu menjaga kemurnian Firman-Nya. Masya Allah!
Setiap kali ada kata Al Kitab yang disebutkan di dalam Al Qur'an, kata itu aslinya
merujuk kepada Taurat dan Injil. Kalaupun yang dimaksud oleh kata Al Kitab itu adalah Al
Qur'an, Al Qur'an di sini bererti Al Kitab (Taurat dan Injil) yang berbahasa Arab. Taurat
dan Injil adalah Al Kitab dasar yang dimiliki oleh orang-orang Muslim yang awal tersebut.
KAUM AHLI KITAB
Banyak ayat-ayat di dalam Al Qur'an yang menggunakan istilah 'Ahli Kitab'. Yang
dimaksud dengan istilah ini selalu kaum Yahudi dan kaum Nasrani baik salah satu di antara
mereka atau kedua-dua golongan tersebut. Tak sekalipun ayat-ayat Al Qur'an itu menyebut
pengikut nabi Muhammad dengan sebutan 'Ahli Kitab'.
Kaum Ahli Kitab ini oleh Al Qur'an juga disebut dengan sebagai "Kaum yang
berhikmat" atau "Kaum yang diberi hikmat," atau "Kaum
yang memiliki ilmu Al Kitab," atau "Orang-orang yang mempunyai
pengetahuan." Sebagai contoh dalam tiga ayat ini Al Qur'an menyatakan:
Katakanlah:" Apakah kamu percaya kepadanya atau tidak percaya (sama saja bagi
Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu sebelumnya apabila Al Qur'an dibacakan
kepada mereka, mereka menundukan dagunya (mukanya) bersujud." (Al Israa' 17:107).
" Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan antara kamu, dan (kesaksian)
orang-orang yang mempunyai pengetahuan (tentang) Kitab." (Ar Ra'd 13:43).
Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu (tentang nabi dan kitab) jika kamu tidak
mengetahui (rasul-rasul diutus), dengan bukti-bukti dan kitab-kitab (Zabur). (An Nahl
16:43-44).
Yang dimaksud dengan 'yang mempunyai pengetahuan' itu bukanlah Al Qur'an, melainkan
kaum Ahli Kitab yang mempunyai pengetahuan tentang Kitab Zabur. Al Qur'an menyatakan:
"Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (kami tulis di dalam) Lauhul
Mahfudz (Kitab Pengetahuan), bahwasanya bumi ini diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.
(Al Anbiyaa' 21:105). Dalam ayat ini yang dimaksud dengan Kitab Pengetahuan adalah sebuah
kitab yang diturunkan sebelum Kitab Zabur. kerana itu mustahil kitab tersebut adalah Al
Qur'an. Kaum Ahli Kitab merupakan kaum yang mempunyai pengetahuan. Dalam Kitab Tafsir
Jalalen disebutkan bahwa orang-orang (kaum) yang mempunyai pengetahuan itu adalah para
Ahli Kitab Taurat dan Injil. Dalam Ar Ra'd 13:43 di atas telah dinyatakan bahwa erti
kesaksian kaum ini lebih tinggi dari kesaksian-kesaksian lain kecuali kesaksian Allah
sendiri. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa mereka yang telah menjadi Muslim sebelum
kedatangan nabi Muhammad dan Al Qur'an, mereka yang termasuk orang-orang Muslim Awal, dan
mereka orang-orang yang mempunyai ilmu Al Kitab, mereka semua itulah yang mempertahankan
agama sejati dan Tauhid. Inilah yang disaksikan oleh Al Qur'an mengenai orang-orang itu:
Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia, para Malaikat dan orang-orang
yang berilmu (menyaksikan) berdiri dengan keadilan. Tidak ada Tuhan melainkan Dia, yang
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya agama di sisi Allah (hanyalah) Islam. (Ali
'Imraan 3:18-19).
Kaum Ahli Kitab di atas, sejak sebelum kedatangan nabi Muhammad sampai pada masanya pun
tetap bersaksi bahwa Tuhan itu Maha Esa. Mereka merupakan orang-orang yang mempunyai
pengetahuan Al Kitab sejak sebelum kedatangan nabi Muhammad, bahkan sampai sekarang pun
mereka tetap mempertahankan dan mengajarkan iman yang benar dan sejati.
Lebih lanjut Al Qur'an menyebutkan bahwa kaum Ahli Kitab adalah "orang-orang yang
berilmu" dalam hal Kebenaran dan masalah-masalah rohani. Petunjuk dan bimbingan
merekalah yang harus diikuti dan diteladani oleh nabi Muhammad dan nasihat-nasihat
merekalah yang harus dijadikan harapan nabi Muhammad agar menghilangkan keragu-raguannya.
Sebaliknya Al Qur'an mengatakan bahwa orang-orang yang mengikuti nabi Muhammad adalah
orang-orang yang kurang mengetahui hal-hal rohani. Inilah yang dinyatakan di dalam Al
Qur'an:
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh, katakanlah: "Roh itu adalah urusan
Tuhanku, dan kamu tidak diberi ilmu melainkan sedikit." (Al Israa' 17:85)
Razi mengatakan pada waktu ayat ini turun, orang-orang yang menanyakan tentang ruh
kepada nabi Muhammad bertanya: "Apakah jawapan ini (kamu tidak diberi ilmu melainkan
sedikit) hanya ditujukan kepada kami atau engkau termasuk di dalamnya?" Nabi Muhammad
menjawab:" Ayat (jawapan) di atas ditujukan untuk kita semua (yang tidak diberi ilmu
melainkan hanya sedikit)." [8] Kalau pengikut-pengikut nabi Muhammad yang "tidak
diberi ilmu melainkan sedikit", sebaliknya kaum Ahli Kitablah disebut sebagai
"kaum yang berhikmat".
Kemudian Al Qur'an menyatakan: "Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an)
kepadamu; di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat (terang maknanya), itulah ibu (pokok)
kitab dan yang lain mutasyabihat." (Ali 'Imraan 3:7). Dengan kata lain bahwa
sebahagian ayat-ayat yang ada di dalam Al Qur'an itu dapat difahami dengan jelas,
sedangkan yang lain lagi masih samar-samar. Sekarang pertanyaannya adalah: berapa
banyak jumlah ayat yang jelas dan dapat difahami, dan berapa banyak juga jumlah ayat
yang masih samar-samar? Imam Ghazali yang dianggap oleh umat Islam sebagai tokoh muslim
terbesar mengatakan bahwa ayat yang jelas dan dapat difahami berjumlah 500 ayat, sedangkan
jumlah keseluruhan ayat di dalam Al Qur'an adalah 6616 ayat.[9] Jadi, dengan fakta di atas
nyatalah bahwa sebahagian besar (92%) ayat-ayat Al Qur'an itu masih samar-samar atau tidak
dapat difahami dengan jelas. Oleh kerana itu Al Qur'an menyuruh para pengikut nabi
Muhammad untuk bertanya kepada orang-orang yang berilmu yaitu kaum Yahudi dan Nasrani
(menurut tafsir Jalalen) apabila ada hal-hal yang tidak dapat difahami. Menurut tafsir
Jalalen, orang-orang yang berilmu adalah tokoh-tokoh baik, Yahudi maupun Nasrani.
Menurut Al Anbiyaa' 21:7 "Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu,
jika kamu tidak mengetahu". Jikalau bahkan nabi Muhammad sendiri diperintahkan untuk
menanyakan hal-hal yang tidak dia ketahui kepada kaum Ahli Kitab, yaitu orang-orang yang
telah membaca Al Kitab sebelum dirinya, apalagi para pengikutnya harus menurut dalam hal
ini juga.
Perintah di atas tidak hanya berlaku pada zamannya nabi Muhammad saja, tetapi sampai
sekarangpun masih tetap berlaku. Kalau begitu jelaslah bahwa kaum ahli kitab yang adalah
kaum Muslim yang sejati, merupakan penjaga kebenaran dan iman di dalam Tuhan.
Contoh nyata betapa dapat dipercayainya petunjuk yang diberikan oleh kaum Ahli Kitab
itu dapat ditemukan di dalam buku pelajaran sekolah menengah di salah satu negara muslim.
Buku berjudul Tauhid ini, ditulis oleh Yousif Karadawi, Elewah Mustafa dan Ali
Gamar, serta diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan Qatar pada tahun 1968. Buku tersebut
tidak hanya digunakan di Qatar, tapi juga di Indonesia. Dalam bab-bab awal dari buku ini,
para pengarang mengutip pendapat tiga belas tokoh Al Kitab dan lapan sarjana Muslim untuk
meyakinkan betapa penting-nya dan mengimani keberadaan Tuhan. Salah seorang ahli Al Kitab
itu, yaitu Abraham Cressy Morrison, dipetik pendapatnya sebanyak sembilan kali, dan
tertuang dalam bentuk tulisan sebanyak 127 baris, sementara itu seluruh petikan pendapat
dari para sarjana Muslim hanyalah sebanyak 76 baris.
Pada bab yang ketiga yang berjudul 'Sifat-sifat Ketuhanan', para pengarang meringkas
jawapan dari seorang tokoh tanpa menyebutkan nama tokoh itu, dalam rangka memberikan
jawapan atas pertanyaan ini: "Seandainya Tuhan itu telah menciptakan segala sesuatu,
lalu siapakah yang menciptakan Tuhan?" Dibawah inilah jawapan dari sarjana yang tidak
disebutkan namanya tadi:
tokoh itu mengatakan bahwa pertanyaan: Siapakah yang menciptakan Tuhan itu tidaklah
logik. Untuk menjelaskan idenya ini dia memberikan dua contoh. Yang pertama adalah:
"Kalau anda meletakkan salah satu buku anda di atas meja, lalu anda meninggalkan
ruangan. Sebentar kemudian anda kembali lagi keruangan itu dan mendapatkan buku yang
diletakkan di atas meja tadi sudah ada di dalam laci. Anda lalu merasa yakin bahwa
seseorang telah meletakkan buku itu ke dalam laci tadi, sebab menurut kodratnya, mustahil
bahwa buku itu dapat pindah sendiri."
Selanjutnya contoh kedua adalah sebagai berikut: " Jika anda berada di dalam suatu
ruangan bersama orang lain, dan dia pula duduk di atas kerusi. Lalu anda keluar, dan pada
saat anda kembali lagi ke ruangan tadi, orang itu sudah duduk di lantai. Anda tidak
menanyakan penyebab pindahnya orang tersebut, selain itu Anda tentunya akan merasa yakin
tak mungkin seseorang telah memindahkan orang itu dari atas kerusi ke lantai, sebab anda
tahu bahwa dia dapat berpindah sendiri dan tidak perlu adanya orang lain untuk
memindahkannya." Nah, demikian juga masalah dengan Tuhan, Dia adalah berdiri sendiri
dan tidak memerlukan sesuatupun untuk menjadikan keberadaanya, dengan demikian pertanyaan
itu tidaklah logik.
Seandainya tokoh tadi adalah seorang muslim, tentunya namanya disebut.
Kemungkinan besar bahwa pendapat ini berasal dari sarjana Al Kitab. Dalam buku yang lain
yang berjudul Al-Iman Wal-Hayah (Iman dan Hidup), ketika membahas masalah nilai
keimanan Dr. Yousif Karadawi mengakhiri bab yang berjudul 'Iman dan Budi Pekerti' dengan
sebuah bahagian yang bertajuk Penolakan-penolakan. Dalam bahagian itu dia menjawab
beberapa penolakan atau keberatan pihak atheis, dan mempertahankan nilai keimanan kepada
Tuhan, dengan mengutip pendapat-pendapat dari lima tokoh Al Kitab dengan jumlah tulisan
114 baris dan mengutip hanya dua sarjana muslim saja dengan jumlah total tulisannya 35
baris.
Pendek kata, beban yang ditanggung oleh dua negara muslim di atas dalam membuktikan
keberadaan Tuhan dan mempertahankan sifat-sifat-Nya telah dipercayakan kepada para
sarjana-sarjana yang telah belajar Al Kitab.
Jadi sama seperti nabi Muhammad, sekitar 1300 tahun yang lalu, menyakini kesaksian dan
hikmat kaum Ahli Kitab dalam menilai dan membuktikan apa yang dia nyatakan, para
pengikutnyapun masih melakukan hal yang sama. Karadawi dalam bukunya Iman dan Hidup
menceritakan tentang perjuangan dan pergumulan seorang ilmuwan yaitu Dr. Henry Link dalam
pengembaraanya untuk menemukan Tuhan. Karadawi juga menampilkan Dr. Henry Link sebagai
contoh seseorang yang mencari dan menemukan Tuhan dan kebenaran-Nya. Rupanya menurut
pengarang muslim dari buku Iman dan Hidup ini, Dr. Link sebagai pengikut Isa
Almasih adalah satu-satunya contoh iman yang luar biasa yang dapat diketengahkan kepada
para pembacanya.
Dalam buku yang lain lagi yang berjudul Al-Islam Yatahada (Islam Menantang
[segala macam 'isme']), si pengarang dalam kata pengantarnya mengakui:
"petikan-petikan yang secara terbuka mendukung agama, sebahagian besar dari mereka
dipetik dari para ilmuwan yang menjadi pengikut Isa Al Masih. Tak menghairankanlah kalau
mereka juga berbagi keyakinan syurgawi kepada kami." [10]
Sekali lagi nyatalah bahwa saat seorang pengarang Muslim hendak menulis sebuah buku
tentang mempertahankan iman bagi kaum Muslim, dia menggunakan sumbangan yang diberikan
oleh para sarjana yang ramai dari mereka adalah ahli Al Kitab. Mereka ini disebut "Umat
yang mempunyai pengetahuan (hikmat)", sejak awalnya Islam, menurut Al Qur'an.
Nabi Muhammad diperintahkan untuk merujuk kepada mereka apabila berada dalam
keragu-raguan. Demikian juga para pengikutnya menggunakan pengetahuan yang ada pada kaum
yang berhikmat ini dalam hal-hal agama dan dalam menghadapi tekanan-tekanan dari para ahli
kafir yang semakin kuat dewasa ini.
Baik dari Al Qur'an maupun dari karya-karya tulis moden nampak jelaslah bahwa kaum
Nasrani (orang Muslim yang sejati) yang memiliki Al Kitab yang asli telah menjadi tuntunan
rohani dan pembela iman dalam Tuhan bagi siapa saja yang mencari kebenaran. Mereka itulah
umat yang tetap akan ada hingga Hari Kiamat sebagai mana telah disaksikan oleh Al Qur'an
sendiri. Sebagai salah seorang Muslim yang sejati dan pemilik Kitab Imam, saya benar-benar
bangga.
- Suyuti, mengulas nas Ali 'Imraan 3:55
- Nawader Al-Osool
, Tirmizi hal.156. Dipetik Al-Tirmizi, Kitab Khatm Al-Awliya,
disunting oleh Othman I.Yahya, Imperial Catholique, Beirut, hal.431.
- Sobhy as-Salih, Mabahith fi 'Ulum al-Qur'an, Dar al-'Ilm lel-Malayeen, Beirut,
1983, hal.17
- Ibid, hal.19
- Ibid, hal.17
- Ibid, hal.20
- Ibid, hal.78
- Razi, At-Tafsir al-Kabir, mengulas nas Al Israa' 17:85
- Suyouti, Itqan Fi 'Ulum Al-Qur'an, Al-Hai'ah Al-Misriyah Al-'Aamah Lil-kitab,
1975, Part II, Section 65: Al-'Ulum al-Mustanbata men Al-Qur'an.
- Wahid ad-Din Khan, Al-Islam Yatahada, diterjemahkan ke bahasa Arab oleh Zafrul
Islam Khan, Mu'asasat ar-Risalah, Beirut, hal.23.
Indeks Utama