AlKitab, yaitu termasuk Kitab-Kitab Taurat, Zabur dan Injil telah memberikan kita suatu pengujian dan garis-panduan untuk membedzakan nabi sejati dari yang palsu:
Berdasarkan penjelasan mengenai apa yang dikatakan Tuhan dalam ayat di atas, kita akan menguji beberapa ramalan yang dibuat oleh Muhammad dalam Quran dan tradisi keislaman untuk melihat apakah ia dapat lolos dan disahihkan dari ujian Allah ini.
"Kekaisaran Romawi telah dikalahkan - di suatu tempat yang dekat: Namun mereka, (walaupun) setelah kekalahan mereka (ini), akan segera berjaya - di dalam beberapa tahun."
Sebagaimana nubuat menyatakan bahwa Byzantium memang meraih kemenangan atas bangsa Persia/Parsi yang sebelumnya mengalahkan mereka. Namun ada beberapa permasalahan mendasar mengenai yang orang dianggap nabi ini:
Kenyataan ini dikuatkan oleh pentafsir Muslim terkenal al-Baidawi. C.G. Pfander menyinggung komentar-komentar Baidawi mengenai bacaan-bacaan yang berbeda yang melingkupi bagian ini:
Jika ini merupakan bacaan yang benar, keseluruhan cerita tentang pertaruhan Abu Bakar dengan Ubai pasti hanyalah suatu dongeng, karena Ubai telah lama meninggal sebelum kaum Muslim mulai mengalahkan Byzantines, dan jauh sebelum kemenangan Heraclius atas bangsa Persia.
Ini membuktikan bagaimana tidak dapat dipercayanya kepercayaan-kepercayaan (tradisi hadis) seperti itu. Penjelasan yang diberikan oleh Al Baidawi adalah, bahwa Byzantium menjadi penakluk 'daerah subur Syria' (dalam bahasa Arab asalnya) dan bagian itu meramalkan bahwa kaum Muslim kemudian akan segera mengatasi mereka. Jika yang dimaksudkan ini, Kepercayaan yang mencatat konon 'turunnya' ayat-ayat ini pada sekitar enam tahun sebelum Hijrah pastilah keliru, dan naskah itu berasal dari seawal-awalnya 6 Masehi.
Jelas bahwa, tanda-tanda huruf hidup tidak digunakan saat pertama kali Qur-an dituliskan ke dalam huruf-huruf Kufa, tak seorangpun yakin manakah yang benar diantara kedua bacaan tersebut. Kita sudah melihat terdapatnya banyak ketidakpastian mengenai :
- Waktu saat ayat-ayat tersebut 'diturunkan',
- Bacaan yang sebenarnya, dan
- Arti, dimana sangat tidak mungkin untuk menunjukkan bahwa naskah tersebut mengandung suatu nubuatan yang tergenapi. Maka, tak dapat dianggap sebagai bukti nubuatan Muhammad."
(C. G. Pfander, Mizan-ul-Haqq - The Balance of Truth, direvisi dan diperluas oleh W. St. Clair Tisdall [Light of Life P.O. Box 18, A-9503, Villach Austria], 279-280)
Ini menjadi kasus, seorang Muslim tak dapat secara yakin mengatakan pada kita manakah bacaan yang sebenarnya dari naskah itu dan oleh sebab itu tak dapat meyakinkan kita bahwa ayat ini sejak awal meramalkan kemenangan Byzantine atas bangsa Persia. Walau bagaimanapun perubahan menghadapkan kita pada nubuat palsu dalam Quran.
o Adalah mengagumkan bahwa nubuat Tuhan tak menunjukkan waktu yang pasti dari kemenangan itu, mengingat bahwa Tuhan adalah yang maha tahu dan maha bijaksana, menyatakan akhir dari sejak awal. Ketika Tuhan menentukan kerangka waktu sebagai suatu bagian yang penting dari suatu nubuatan kita akan mengharapkan ketepatannya, bukan hanya dugaan belaka.
Bagi Tuhan untuk memperkirakan Byzantines akan menang pada satu waktu di dalam "beberapa tahun" seakan menolak untuk menentukan waktu yang pasti, adalah tak konsisten dengan kepercayaan akan Dia yang Maha Mengetahui (Omniscient), Maha Kuasa (Omnipotent). Karena itu, sepertinya tidak akan mungkin bila Tuhan yang sejati akan membuat nubuat seperti itu.
Menariknya, istilah "beberapa tahun" selanjutnya semakin mendiskreditkan dan menyangkal apa yang dikatakan nubuat ini. Abu Bakar percaya bahwa istilah "beberapa tahun" berarti Byzantium akan menang dalam tiga tahun:
"Bagian ini merujuk kepada kekalahan Byzantium di Syria oleh bangsa Parsi dibawah pimpinan Khusran Parvis. (615 M - 6 tahun sebelum Hegira). Walaupun begitu, kekalahan bangsa Parsi akan terjadi sesegera mungkin 'hanya dalam beberapa tahun'. Dengan petunjuk ramalan ini, Abu Bakar bertaruh dengan Ubai-ibn-Khalaf bahwa ramalan ini akan tergenapi di dalam waktu tiga tahun, namun ia dikoreksi oleh Mohammad yang menyatakan bahwa 'waktu singkat' adalah antara tiga hingga sembilan tahun (Al-Baizawi).
Kaum Muslim mengatakan pada kita bahwa Byzantines mengatasi musuh-musuhnya di dalam waktu tujuh tahun. Kenyataannya, akan tetapi, adalah bahwa Byzantines mengalahkan Persia pada 628 M (penjelasan Al-Baizawi). Itu artinya duabelas tahun setelah ramalan Mohammad. Sebagai konsekuensinya bagian itu tak memenuhi syarat sebagai nubuatan, terutama karena waktu antara nubuat dan penggenapannya sangat terlalu singkat, dan kejadiannya dapat dengan mudah diramalkan."
(Gerhard Nehls, Christians Ask Muslims [Life Challenge, SIM International; Africa, 1992], hal. 70-71)
Tentang Saat Memasuki Mekah
Surah 48:27 memberikan janji berikut ini:
"Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesunguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat."
Ayat ini diungkapkan berkenaan dengan kegagalan usaha kaum Muslim memasuki Mekkah untuk melakukan Tawaf (suatu bagian tatacara Haji yaitu berlari diantara dua gunung yang dimaksud untuk mengingat kisah pengambilan air oleh Siti Hajar untuk Ismail).
Dalam perjalanannya menuju Ka'bah, mereka bertemu dengan seorang utusan kaum Mekkah yang dipimpin oleh Suhail b. Amr yang melarang kaum Muslim untuk menyelesaikan perjalanannya. Pertemuan ini kemudian berlanjut dengan penandatanganan perjanjian Hudaibiya.
Beberapa masalah timbul dari kejadian ini. Pertama, saat penandatanganan perjanjian Hudaibiya Muhammad menyetujui kaum musyrik Mekkah untuk mengembalikan kepada mereka siapapun yang telah menjadi Islam. Pada saat yang sama Muhammad juga tunduk pada tuntutan mereka untuk mengganti tanda tangannya dari 'Muhammad, Utusan Allah' menjadi 'Muhammad, putera Abdullah' agar ia diperbolehkan untuk melakukan perjalanan ziarah ke Mekkah pada tahun selanjutnya. Artikel berikut ini diambil dari Sahih al-Bukhari, Jilid 3, Kitab 50, Nomor 891:
" Ketika Suhail bin Amr datang, Rasul berkata, 'Kini persoalannya telah menjadi mudah.' Suhail berkata kepada Rasul 'Mari membuat perjanjian damai dengan kami.' Lalu, Rasul memanggil juru tulis dan berkata kepadanya, 'Tuliskan: Demi Nama Allah, Yang Maha Pemurah, Maha Pengasih.' Kata Suhail, 'Untuk "Pemurah," demi Allah, aku tak mengerti artinya. Jadi tuliskan: Demi NamaMu ya Allah, sebagaimana sebelumnya.' Kaum Muslim berkata, 'Demi Allah, kami tak akan menulis kecuali: Demi nama Allah, yang Maha Pemurah, Maha Pengasih.' Kata Rasul, 'Tuliskan: Demi NamaMu ya Allah.'
Kemudian ia mendiktekan, 'Ini adalah perjanjian damai yang telah dibuat oleh Rasul Allah, Muhammad.' Kata Suhail, 'Demi Allah, jika kami tahu bahwa engkau adalah Rasul Allah kami tak akan menghalangi kamu untuk mengunjungi Ka'bah, dan tak akan memerangimu. Jadi, tuliskan: 'Muhammad bin Abdullah.' Kata Muhammad, 'Demi Allah! Aku adalah Rasul Allah walaupun engkau sekalian tak mempercayaiku. Tuliskan: Muhammad bin Abdullah.' (Az-Zuhri berkata, 'Rasul menerima semua itu, karena ia telah menyanggupi menerima semua yang mereka tuntut jika itu untuk menghormati peraturan Allah, (yaitu dengan memperbolehkan ia dan kelompoknya melaksanakan 'Umrah'.)')
Rasul berkata kepada Suhail, 'Dengan persyaratan bahwa engkau memperbolehkan kami mengunjungi Rumah itu (Ka'bah) sehingga kami dapat melaksanakan Tawaf disekelilingnya.' Kata Suhail, 'Demi Allah, kami tak akan (memperbolehkan kamu tahun ini) agar tak memberikan kesempatan bagi bangsa Arab untuk memberitakan bahwa kami telah tunduk padamu, namun kami akan memperbolehkan engkau tahun depan.' BEGITULAH, RASUL MEMBUAT HAL ITU SECARA TERTULIS.
'Kemudian Suhail berkata, 'Kami juga menetapkan bahwa engkau akan mengembalikan kepada kami siapa pun dari kami yang datang kepadamu, walaupun bila ia telah memeluk agamamu.' Kaum Muslim berkata, 'Terpujilah ya Allah! Bagaimana mungkin orang seperti itu dikembalikan kepada para musyrik setelah ia menjadi seorang Muslim?'" (huruf tebal sebagai satu penegasan)
Salah satu dari mereka yang dipaksa untuk kembali ke Mekkah dengan para musyrik adalah Abu Jandal. Dalam Sirat Rasulullah (The Life of Muhammad, terjemahan Alfred Guillaume, Oxford University Press), hal 505 karya Ibn Ishaq kami diberitahukan:
'Saat Suhail (perwakilan dari Mekkah dan penyusun perjanjian) melihat Abu Jandal ia bangkit dan memukulnya di bagian wajah dan merenggut kerahnya, sambil berkata, 'Muhammad, perjanjian di antara kita disepakati sebelum orang ini datang kepada engkau.' Ia membalas, 'engkau benar.'
Ia mulai menariknya pada kerah bajunya dengan kasar dan menyeretnya kembali ke Quraysh, sementara Abu Jandal berteriak sekuat tenaga, 'Apakah aku akan dikembalikan kepada para musyrik dimana mereka dapat menjauhkanku dari agamaku O kaum Muslim?' dan itu menambahkan kekesalan orang-orang'" (huruf tebal dan miring menegaskan kami)
Dan:
'Saat mereka dalam keadaan ini Abu-Jandal bin Suhail bin 'Amr datang dari lembah Mekkah berjalan sempoyongan dengan belenggu-belenggunya dan terjatuh diantara kaum Muslim. Suhail berkata, 'Ya Muhammad! Ini adalah persyaratan yang paling utama agar kita dapat berdamai dengan engkau, yaitu kamu harus mengembalikan Abu Jandal kepadaku.' Kata Rasul, 'Perjanjian perdamaian belumlah lagi dituliskan.' Kata Suhail, 'Takkan pernah kubiarkan engkau mempertahankannya.' Kata Rasul, 'Baik, lakukanlah.' Katanya, 'Aku takkan melakukannya: Kata Mikraz, 'Kami persilahkan engkau (mempertahankannya).' Abu Jandal berkata, 'Oh kaum Muslim! Akankah aku dikembalikan kepada pada musyrik walaupun aku telah menjadi seorang Muslim? Tidakkah kalian melihat betapa menderitanya aku?'
Abu Jandal (sebelumnya) telah disiksa secara kejam karena imannya pada Allah' (Sahih al-Bukhari, Jilid 3, Kitab 50, Nomor 891)
Kita perlu mempertanyakan apakah Musa pernah menyerahkan orang yang telah bertobat (terutama yang orang Mesir) kembali kepada berhala Firaun untuk menyenangkannya agar mendapatkan yang dia inginkan? Pernahkah Isa menyetujui kebenaran Tuhan dengan mengadakan persetujuan dengan para Pharisi dengan mengembalikan para pengikutnya sehingga dapat diterima oleh para penguasa Yahudi? Akankah Musa atau Isa pergi sejauh mungkin untuk mengingkari kerasulannya agar menyenangkan kehendak para penyembah berhala'? Akankah keduanya menolak memuliakan Tuhan yang sejati berdasarkan apa yang diperintahkan oleh sang Pencipta dan menyetujui permintaan untuk memanggil Tuhan berdasarkan kehendak orang-orang yang tak percaya, sebagaimana yang Muhammad lakukan?
Sebagaimana orang akan mengira bahwa kaum Muslim menjadi marah, terutama Umar b. al-Khattab yang mendebat Muhammad:
'Umar bin al-Khattab berkata, ' Aku menghampiri Nabi dan berkata, "Bukankah engkau adalah benar-benar utusan Allah?" Rasul berkata, "Ya, betul." Aku berkata, "Bukankah maksud kita adil dan maksud lawan tidak?" Katanya, "Ya." Aku berkata, "Lalu mengapa kita harus berendah diri dengan agama kita?" Katanya, "Aku adalah utusan Allah dan aku tak menentang Dia, dan Dia akan membuatku menjadi pemenang"'"
(Sahih al-Bukhari, Jilid 3, Kitab 50, Nomor 891)
Kemarahan kaum Muslim dapat dibenarkan ketika kita menyadari bahwa Muhammad telah menjanjikan pengikutnya untuk dapat memasuki Mekkah pada tahun yang sama. Ketika hal itu tak terjadi, Muhammad berusaha untuk meluruskan pernyataannya dengan berkata, "Benar, apakah aku mengatakan kepada engkau bahwa kita akan pergi ke Ka'bah tahun ini?" (Ibid)
Dengan kata lain, karena ia tidak menjelaskan bilakah mereka akan memasuki Mekkah, hal ini tak dapat dikatakan sebagai nubuatan palsu! Ini hanyalah kekeliruan karena rombongan kaum Muslim sedang dalam perjalanan mereka menuju Mekkah pada saat utusan dari kaum musyrik Arab menghentikan mereka. Sebenarnya, salah satu dari kehendak Muhammad dalam penandatanganan perjanjian adalah bahwa kaum musyrikin membiarkan kaum Muslim untuk menyempurnakan perjalanan mereka ke Mekkah dalam melakukan Tawaf. Suhail mengingkari permintaan Muhammad dan malah kemudian membuat suatu perjanjian dimana kaum Muslim dapat memasuki Mekkah di tahun selanjutnya. Ibn Kathir lebih jauh mendukung hal ini dalam komentarnya pada Surah 48:27:
"Dalam suatu mimpi, sang Utusan Allah melihat dirinya sendiri memasuki Mekkah dan melaksanakan Tawaf disekeliling Rumah. Ia mengatakan mimpinya ini kepada Sejawatnya saat ia masih di Al-Madinah. Ketika mereka pergi ke Mekkah pada tahun Al-Hudaybiyyah, tak seorang pun dari mereka meragukan jika penglihatan sang Rasul AKAN MENJADI KENYATAAN DI TAHUN ITU.
Ketika perjanjian damai dirumuskan dan mereka harus kembali ke Al-Madinah tahun itu, dan diperbolehkan untuk kembali ke Mekkah pada tahun selanjutnya, BEBERAPA REKANNYA TAK MENYUKAI KEADAAN TERSEBUT. 'Umar bin Al-Khattab menanyakan tentang INI, katanya, 'Bukankah kamu telah memberitahukan kami bahwa kita akan pergi ke Rumah dan melaksanakan Tawaf disekelilingnya?"'
(Tafsir Ibn Kathir, Ikhtisar, Jilid 9, Surat Al-Jatiyah hingga akhir Surat Al-Munafiqun, Diikhtisarkan oleh sekelompok sarjana dibawah pengawasan Shyakh Safiur-Rahman Al-Mubarakpuri [Darussalam Publishers & Distributors, Riyadh, Houston, New York, London, Lahore; edisi pertama, September 2000], hal. 171)
Ini membuktikan sebenarnya Muhammad yakin bahwa ia akan memasuki Mekkah, sebuah rencana yang tak pernah menjadi kenyataan. Untuk menyelamatkan muka dan mengelak daripada dimalukan dia harus menyangkal untuk mengakui kalau sebenarnya ia telah menyatakan secara tak langsung bahwa kaum Muslim akan memasuki Mekkah pada tahun yang sama.
Kedua, yang lebih buruknya lagi Muhammad melanggar perjanjian dengan kaum Mekkah dengan menolak mengembalikan seorang mualaf Muslim dari Quraysh. Penolakan ini jelas merupakan pelanggaran terhadap hal-hal yang telah ditetapkan dalam perjanjian yang telah Muhammad setujui untuk ditandatangani:
"Umm Kulthum Uqba b. Mu'ayt menyeberang ke rasul pada masa tersebut. Dua saudara lelakinya 'Umara dan Walid' anak Uqba datang dan bertanya kepada rasullullah untuk mengembalikannya kepada mereka berdasarkan perjanjian antara dia dan Quraysh di Hudaybiyya, namun Muhammad menolak. Tuhan melarang itu."
(Sirat Rasulullah, hal. 509; huruf miring sebagai penegasan)
Karena itu, Muhammad memberikan alasan pelanggaran sumpahnya dengan dalih bahwa itu adalah kehendak Tuhan untuk melakukan itu. Sayangnya untuk kaum Muslim, ini akan membuktikan bahwa Tuhannya Muhammad bukanlah Tuhan menurut Kitab Suci Alkitab karena melanggar sumpah adalah jelas dilarang. (banding dengan nas Bilangan 30:1-2)
Berdasarkan semua pertimbangan tersebut kita sekali lagi terdorong untuk memberikan pertanyakan-pertanyaan berikut ini. Pernahkah Musa tunduk kepada perintah-perintah Fir'aun agar dapat membawa Israel keluar dari perbudakan Mesir? Pernahkah Isa Al-Masih mengingkari kemesiasanNya untuk mendapatkan jalan menuju Bait Suci?
Pernahkah salah satu dari nabi Tuhan yang sejati bersekutu dengan kaum musyrik untuk menggenapi kehendak Allah? Apakah mereka ini tetap melanggar sumpah dan janji-janji mereka untuk mendapatkan keuntungan yang tak wajar dari para orang tidak percaya?
Satu masalah terakhir dari semua ini adalah bahwa kaum Muslim menyatakan bahwa setiap kata dalam Quran diwahyukan secara langsung oleh Tuhan kepada Muhammad melalui Jibril. Berdasarkan asumsi ini kaum Muslim kemudian berpikir bahwa seseorang tak akan menemukan kata-kata Muhammad yang bercampurbaur dengan kata-kata Tuhan. Ini menjadi alasan, bagaimana kaum Muslim menjelaskan fakta bahwa pada Surah 48:27 Allah berkata : insha' Allah, yaitu "Bila Allah berkehendak"? Apakah Tuhan tak memahami keinginannya sendiri? Jika demikian, mungkinkah dia tak yakin bilakah tujuan dia akan menjadi kenyataan hingga ia harus membatasi pernyataannya dengan ungkapan, insha' Allah ?
Orang dapat memahami bagaimana manusia yang tak luput dari kesalahan yang tak peka akan maksud Tuhan dapat membatasi pernyataan-pernyataan mereka dengan ungkapan "Jika Tuhan berkehendak" (banding nas Yakobus 4:13-15). Namun bagi Tuhan untuk membuat pembatasan itu adalah sama sekali tidak masuk akal.
Lebih lanjut, jika Tuhanlah yang berbicara lalu siapakah yang dirujuknya saat ia berkata "Jika Tuhan berkehendak"? Apakah ia menunjuk pada dirinya sendiri ataukah orang lain? Jika ia merujuk kepada orang lain, lalu berapa banyak Tuhan yang ada? Atau mungkin Allah juga merupakan Mahluk multi-personal dengan melihat terdapatnya lebih dari satu Oknum yang membentuk kesatuan Allah?
Ini mengantarkan kita untuk menyimpulkan bahwa ramalan Muhammad bukan hanya gagal untuk terwujudkan, namun juga bahwa alasan-alasannya dalam menciptakan wahyu adalah kekuasaan, uang dan ketenaran. Ayat ini sekaligus membuktikan bahwa Tuhan bukanlah pengarang Quran.
Tentang Kemunculan Antikristus / Sang Dajjal dan Hari Kiamat
Muhammad menyatakan tanpa bukti bahwa antikristus (disebut Dajjal) akan muncul segera setelah kaum Muslim mengalahkan Konstantinopel. Berikut ini diambil dari Sunan Abu Dawud :
Kitab 37, Nomor 4281: